Keberagaman Definisi Penerjemahan

definisi penerjemahan

Definisi penerjemahan sangat beragam. Keberagaman itu disebabkan oleh sudut pandang dan penekanan yang berbeda. Penerjemahan, setidaknya, dipandang dari tiga sisi yang berlainan, yaitu sebagai ilmu, keterampilan, dan seni (Newmark, 1988). Seperti halnya dalam memandang definisi penerjemahan, sekarang para ahli bahasa memandang tidak perlu lagi membuat dikotomi dari ketiganya.

Sebagai sebuah keterampilan, kemampuan menerjemahkan diperoleh dari praktik dan pengalaman (Hoed, 2006).  Dengan demikian, semakin sering menerjemahkan, semakin terampil seseorang dalam menerjemahkan. Keterampilan itu pada akhirnya akan membuahkan penerjemahan sebagai seni. Karena merupakan sebuah karya seni, perjemahan tidak sekadar memindahkan pesan dari TSu ke TSa, tetapi menciptakan nilai estetis dalam TSa. Hal itu selaras dengan pendapat para penerjemah profesional yang menyatakan bahwa penerjemahan adalah seni yang hanya membutuhkan bakat, praktik, dan pengetahuan umum (Baker, 1992). Penerjemahan sebagai ilmu lahir lebih kemudian daripada sebagai keterampilan dan seni. Penerjemahan sebagai sebuah disiplin ilmu baru berkembang pada tahun 1960-an–1970-an. Salah seorang penggagas awal adalah James S. Holmes (Munday, 2001). Penerjemahan sebagai ilmu terus berkembang karena disiplin ilmu itu bersinggungan pula dengan disiplin ilmu lain. Hatim dan Munday (2004) menyatakan bahwa ilmu penerjemahan bersinggungan dengan disiplin ilmu lain, yaitu filsafat, linguistik, kajian kesusasteraan,  kajian budaya, dan bahasa teknis.

Sebelum membahas penerjemahan lebih dalam, perlu kiranya ada penyamaan persepsi mengenai penerjemahan itu sendiri. Hoed (2006) mengemukakan empat hal tentang ikhwal penerjemahan. Pertama, penerjemahan :: translating, yakni kegiatan mengalihkan secara tertulis pesan dari teks suatu bahasa ke dalam teks bahasa lain. Kedua, terjemahan :: translation, yakni hasil dari kegiatan penerjemahan. Ketiga, penerjemah :: translator, yakni orang yang melakukan kegiatan penerjemahan. Keempat, penerjemahan :: translation, yakni ikhwal penerjemahan.

Meskipun belakangan definisi penerjemahan cenderung tidak lagi dipersoalkan, saya  berpendapat bahwa ada baiknya definisi itu dibuat agar orang yang belajar penerjemahan dapat mengetahui ruang lingkup kajian yang dipelajarinya. Dari  definisi yang dikemukakan oleh banyak pakar, saya berpendapat bahwa penerjemahan adalah pengalihan pesan sebuah teks ke bahasa yang sama atau berbeda secara tertulis melalui metode dan prosedur penerjemahan tertentu dan dilatarbelakangi oleh tujuan tertentu serta ditujukan kepada pembaca sasaran tertentu pula dengan bahasa yang tepat, akurat, jelas, dan berterima dalam BSa dan wajar dengan tetap memertahankan makna yang terkandungi dalam TSu. Dengan demikian, hakikat penerjemahan adalah menemukan kesepadanan makna antara BSu dan BSa.

Pemadanan bertujuan untuk menciptakan  kesamaan tanggapan pembaca TSu dan TSa melalui metode dan prosedur penerjemahan. Kesamaan tanggapan di sini tidak selalu sama dan sebangun. Akan tetapi, kesamaan itu dapat saja bermakna semu atau malah berbeda. Kesamaan tanggapan atas makna dipertanyakan oleh beberapa ahli. Saya sependapat dengan Schleiermacher (2000) yang menyatakan bahwa tidak ada kesepadanan yang sempurna untuk sebuah pernyataan. Kesepadanan juga harus memerhatikan pembaca sasaran.  Sebagai contoh, kata pregnant dapat dipadankan dengan “hamil, berbadan dua, bunting, mengandung atau lagi isi”. Pilihan padanan dalam BSa untuk kata pregnant dapat disesuaikan dengan latar belakang pembaca sasaran. Untuk masyarakat lapisan tertentu, kalimat ‘Ia lagi bunting’ akan lebih berterima daripada ‘Ia sedang mengandung’. Dalam hal ini, penerjemah harus memiliki kepekaan terhadap siapa pembaca TSa.

Agar kesepadanan dapat tercipta dengan tepat, penerjemah dituntut untuk peka terhadap semua hal yang terkandungi dalam TSu karena penerjemahan meliputi kajian mengenai unsur leksikal, struktur gramatikal, situasi komunikasi, dan konteks budaya  TSu (Larson, 1984). Kajian itu diejawantahkan dalam bentuk analisis. Tujuan dari menganalisis TSu adalah untuk memahami pesan dan kemudian mengungkapkan kembali dalam TSa seraya tetap menjaga keutuhannya dengan menggunakan unsur leksikal dan struktur gramatikal yang sesuai dengan kaidah BSa dan konteks budaya BSa.

Supaya proses penerjemahan dapat berhasil, yang ditandai dengan sampainya makna yang sama dari BSu ke BSa, lebih jauh Larson (1984) mengemukakan bahwa ada tiga persyaratan yang mutlak dimiliki oleh seorang penerjemah, yaitu penerjemah harus mampu memahami BSu, BSa, dan pokok bahasan. Mutlaknya pemahaman ketiga unsur itu oleh Venuti (1995), yang mengutip Nida dan de Waard (1996), didasarkan pada pengertian bahwa ”a translator must be a person who can draw aside the curtains of linguistic and cultural differences so that people see the relevance of the original message.”